Pottery Workshop dan Bukber di Djajanti Kitchen & Coffee House - 🎄 😺 Catatan Ika 🎨 🍰

cat-header

Pottery Workshop dan Bukber di Djajanti Kitchen & Coffee House

Inilah dia workshop yang paling pengen aku ikuti: Pottery Workshop! 😁 Di tahun 2024, aku pernah melihat info pottery workshop di akun ig EO lain, tapi pas mau daftar eh ternyata di cancel. Kayaknya sih karena instrukturnya ada kesibukan lain. So pas kemarin tau Eventsy mau ngadain pottery workshop, aku auto daftar, sat set tanpa babibu lagi, hehehe. Segitu penasarannya pengen membuat mug dari nol. So here we go! 😈


Pottery workshop yang berbiaya 240K ini diadakan oleh Slow Home Living Studio (@slowhomeliving) dan Eventsy (@eventsy.id) pada hari Minggu, 23 Maret 2025, jam 15.30 - 17.30 WIB di Djajanti Kitchen & Coffee House (@djajantikitchen). Instrukturnya ramah dan dengan hepi menjelaskan proses pembuatan barang pottery seperti mug, piring, vas bunga, dll. 


Belajar membuat mug gemassh 💙


Setiap peserta mendapatkan material berupa 350 gram stoneware clay. Apa sih stoneware clay itu? Stoneware clay adalah tanah liat yang digunakan sebagai bahan dasar keramik yang dibakar pada suhu yang relatif tinggi. Tanah liat ini memiliki sifat plastis yang baik sehingga mudah dibentuk. Beberapa karakteristiknya yaitu tahan air, memiliki sifat kaca, lebih keras dan padat dibanding earthenware clay, mengalami perubahan fisik karena dibakar pada suhu tinggi (titik didih tinggi), permukaan lebih kasar bila dibandingkan dengan porselen, dan dapat dilapisi dengan glasir. Stoneware clay yang digunakan sebagai bahan dasar keramik biasanya dibakar dalam suhu 1100-1200 derajat Celcius. Namun juga bisa mengering ketika dijemur di bawah sinar matahari atau dalam suhu ruang sekitar 1-3 hari. Stoneware clay sangat cocok digunakan untuk membuat aneka prakarya, kerajinan keramik, action figure, serta dapat meningkatkan kreativitas dan motorik.


Pottery Workshop with Slow Home Living 🙌


Sebagai info tambahan, terdapat juga jenis tanah liat yang lain yang biasa digunakan di pottery juga, yaitu earthenware clay (tanah liat merah). Earthenware clay lebih lunak, berpori, biasanya tidak diglasir, dan menyerap air karena dibakar pada suhu yang lebih rendah yaitu dibawah 1200 derajat Celcius. Nah biasanya earthenware clay digunakan untuk membuat kerajinan gerabah, batu bata, dan genting. Okee ya cukup untuk info perbedaan stoneware dan earthenware 😉. Di workshop ini kami memakai stoneware clay karena nantinya akan melalui proses bisque & glaze firing. 


Siap belajar membuat mug 💪🥃


Mulailah aku menepuk-nepuk stoneware dan membuatnya menjadi bulat sempurna, kemudian aku taruh di alasnya. Oya, di workshop ini tidak memakai pottery wheel karena untuk kelas pemula, yang difokuskan adalah handbuilt pottery, alias hanya menggunakan tangan dan memakai beberapa metode seperti pinching, coiling, dan slab building 👏👋. 


Gagal mulu 😅, entah ini udah percobaan yang ke berapa kali 😆


Untuk mulai membuat lingkaran di tengah, aku basahi jempol dengan sedikit air lalu tekan stoneware membentuk lingkaran di tengah. Nah dari sini buat menjadi lingkaran yang lebih besar sampai akhirnya stoneware menjadi bentuk mug. Tapi ternyata.... tidak semudah itu Ferguso! Proses menjadikan stoneware menjadi berbentuk mug ini ternyata cukup susah. Beberapa kali aku mengalami kegagalan dan sempat minta dijelasin lagi oleh instruktur. Setelah jadi bentuk mug pun, masih harus "dirapikan" dengan menggunakan alat ukir. 


Dirapikan dengan alat ukir dan proses membuat pegangan mug


Nah sekarang aku mulai membuat pegangan mug nya. Caranya dengan membuat bentuk sosis lalu dipotong sesuai panjang yang diinginkan, pokoknya dibuat pas dan cocok dengan ukuran mug nya. Pegangan mug "ditempel" dengan lem khusus yang sudah disediakan instruktur (kayaknya sih dari bahan stoneware juga, cuma aku kurang tau dicampur dengan apa kok bisa jadi kayak lem gitu). Next, supaya pegangannya menyatu dengan mug, di bagian atas dan bawah pegangan harus dilingkari dengan sedikit stoneware yang sudah dibentuk seperti sosis kecil. Aku ambil alat ukir lagi untuk menyatukan dan merapikan pegangan pada mug. Selesai? 


Mulai membuat hiasan dengan sisa stoneware


Meong! 😺


Membuat hiasan dan proses pengeringan sebelum pewarnaan


Oh beluuum dong, hehe 😄. Stoneware clay ku masih ada sisa sedikit nih, yuk mari buat beberapa hiasan lucu dan unik di mug nya. Disini aku hias dengan namaku, gambar kucing 🐱, dan beberapa lingkaran. Berhubung stoneware ku udah abis, sekarang saatnya pengeringan dengan menggunakan hair dryer. Unik juga, baru tau kalau hair dryer bisa digunakan untuk mengeringkan tanah liat. Proses pengeringan ini penting ya supaya kita bisa lanjut ke proses melukis dan mewarnai 🎨. 


Asyiknya mewarnai

Si meong diwarnai juga 😼


Proses mewarnai sungguh menyenangkan, bikin lupa waktu! 😄


Berikutnya... mari mulai melukis dan mewarnai mug! 🎨 Untuk mewarnai mug aku pakai kuas yang brush nya berukuran sedang, dan untuk gambar atau warna yang kecil-kecil, aku pakai kuas yang brush nya kecil aja. Untuk menggambar/melukis dan mewarnai pada media mug ini ternyata juga ga gampang-gampang amat. Harus teliti supaya tidak mbleber. Tapi ya tetep aja pada mbleber sih, hehe, maklum ini kali pertama aku mewarnai pada media tanah liat.


Warnai juga bagian bawah dan dalam mug ☝, full color pokoke! 💙💛


Semua pada fokus asyik mewarnai 🎨


Dan beginilah hasilnya! Mug sudah jadi... eh atau setengah jadi ya? 😅 Soalnya kan belum melalui proses firing (bisque & glazing)? Jadi ternyata untuk proses ini gak bisa langsung dilakukan gaess, karena mug harus didiamkan dulu beberapa hari antara 2-7 hari bahkan lebih sebelum proses firing. Semua mug, piring, dan hasil karya peserta akan dibawa oleh instruktur ke studio Slow Home Living untuk mendapatkan free firing process. Untunglah gratis, hehe. Padahal dari yang aku lihat di google, firing process ini memakai alat yang gak murah, kalau gak salah, namanya Kiln. Berhubung sebentar lagi Lebaran, so bakalan agak lama sih untuk bisa mendapatkan hasil akhir dari kelas pottery hari ini, kemungkinan 1 bulan. Tapi ga papa, penantian ini hanya sementara, kita akan bertemu lagi wahai mug ku yang gemassh 😘.


Hasilnya gemassh! 😍 


Meow! 😸


Aku jelasin sedikit mengenai proses firing ya. Dari hasil googling, ada 2 jenis firing untuk pottery yaitu bisque dan glaze. Bisque firing biasanya membutuhkan suhu 800-900 derajat Celcius dan bertujuan untuk menjadikan barang lebih kuat dan keras. Bisque firing adalah pembakaran awal barang tanpa glasir untuk menjadikannya tahan air dan dapat menyerap untuk pelapisan / glasir. Sedangkan glaze firing adalah pembakaran kedua dimana barang dilapisi glasir dan dibakar pada suhu yang sangat tinggi yaitu 1162-1240 derajat Celcius. Tujuannya adalah menghasilkan lapisan pelindung yang mengkilap pada barang (food grade). Lapisan pelindung ini terbentuk setelah glasir meleleh dan menyatu dengan permukaan barang. Semoga penjelasan ini dapat memberikan pencerahan 😏.


Hasil karya dari semua peserta workshop hari ini, gemassh 😻


Jadi mari kita nantikan saja bagaimana hasilnya nanti setelah 1 bulan. Aku sih yakin banget hasilnya bakalan kinclong dan top markotop! 😎


Thank you Eventsy, Slow Home Living Studio, and Djajanti Kitchen! 👍 


Thank you for the pottery workshop! 💛👏


Btw, setelah workshop, kami mendapat free food and beverage dalam rangka berbuka puasa bersama. Gak nyangka banget dapat kejutan se-yummy ini! Semua menunya yummy semua, membuatku bingung memilih 😅. Beberapa pilihannya adalah Nasi Goreng Iga, Bakso Sapi, dan Selat Solo. Akhirnya aku memilih menu Selat Solo. Selat Solo adalah hidangan khas Solo yang menggabungkan bistik daging sapi dengan sayuran dan kuah manis khas Jawa, sering juga disebut sebagai Bistik Jawa. Untuk beverage, kami dapat es kelapa muda dan sebotol air putih. Terimakasih Djajanti Kitchen & Coffee House untuk hidangan yang lezatos ini! 😋👍


Free food and beverage from Djajanti Kitchen & Coffee House 😎


Selat Solo yang lezatoss sangadh! 😋💥


Demikianlah catatanku mengikuti Pottery Workshop hari ini bersama Eventsy dan Slow Home Living Studio. Next kita ikut workshop apa lagi ya? 😄


Location Map: Djajanti Kitchen & Coffee House

Catatan Menarik Lainnya

Baca Juga
cat-footer